1 Febuari 2013, Yang Ketiga Sekarang Adalah Malaikat

images

Hari ini aku berjalan anggun melewati jalan kecil menuju masjid dekat rumahku, baju yang kukenakan mungkin terlihat mewah jika di pakai ke kampus. Kali ini aku akan menemani seseorang yang sebentar lagi akan menyongsong kehidupan baru. Saudariku tercinta yang dengan kami berdua susah dan senang pernah dilalui bersama, ada kalanya pertikaian itu pun juga tak dapat dihindarkan, ada kalanya kebahagiaan itu tak mampu dipendam sendiri sehingga dengan tangan terbuka kita saling berbagi.

Lebih dari 10 menit sejak aku duduk manis di belakang seorang wanita bergaun 10 kali lebih indah dari gaun yang kukenakan, bersamanya seorang laki laki berjas hitam yang sedari tadi mungkin sedang tegang sambil menghafalkan sebuah kalimat dalam hati.

Aku yang sedari kemarin dag dig dug, hari ini semakin bertambah hebat rasa khawatirku. Aku tatap satu persatu wanita wanita yang duduk sebaris denganku, mereka semua memperlihatkan wajah menunggu, aku tersenyum dengan seseorang yang duduk dekat di sampingku.

Beberapa saat kemudian, seseorang yang ditunggu tunggu datang. Seorang bapak bapak berkupluk hitam di kepalanya, membawa tas hitam pula dan memakai baju berwarna emas kecoklatan (Mm maksdku kuning kecoklatan, Mm bukan! Ah, entah aku tidak bisa mendiskripsikan warnanya, pokoknya dia memakai seragam kecamatan).

Yaaa… Acara akan segera dimulai, microfon melantangkan beberapa kalimat yang diucap MC. Setelah beberapa episode, tiba saatnya seseorang berumur sekitar 60-an berpindah duduk di depan laki laki berjas hitam tadi. Dipegangnya microfon, dan meminta kepada orang berseragam kecamatan untuk memberikan khotbah sebentar. Setelah dibacakan, kedua tangan itu berpaut erat. Mungkin kah bergetar diantara tangan mereka? Mungkinkah malah hati mereka berdua yang bergetar? Ataukah hati seorang perempuan muda bergaun sepuluh kali lebih indah dari ku yang bergetar karena sebentar lagi masa kelajangannya akan hilang? Atau mungkin wanita berusia 50-an tahun yang duduk disampingnya yang merasakan hatinya bergetar karena sebentar lagi anak perempuan satu satunya akan berlepas dari tanggung jawabnya? Ah, aku rasa justru hatiku yang sedari tadi bergetar tak karuan.

Aku membayangkan yang tidak tidak. Membayangkan bagaiamana jika aku yang duduk disana mengenakan gaun terindah di ruangan itu, akankah aku menangis? Dan akan dilihat oleh banyak orang? Ah, tidak ! aku tidak akan begitu karena mungkin aku tidak akan duduk berdampingan dengan orang berjas hitam yang akan mengepal erat tangan ayahku sembari berkata, “Saya terima ……..bla bla bla”. Sehingga tidak akan ada orang yang melihatku menagis terisak haru. Ah, betapa indahnya masa itu ketika orang tuaku berlepas tanggung jawab atasku, dan menyerahkan kepada seseorang yang menjadi penyempurna agamaku. Sungguh, aku akan menyelesaikan masa penantian ini dengan ridho-Nya, aku serahkan pada-Nya dengan kepada siapa dan bagaimana aku akan melabuhkan perahu penentian ini, semua kuserahkan pada-Mu ya Rabb, semoga Allah selalu membersihkan hati ini dari godaan godaan syetan yang terkutuk.

Penyerahan si wanita gagal untuk pertama  kali karena mempelai pria mengucapkan “bismillah” terlebih dahulu sebelu mengucapkan kalimat sakral itu. Kesempatan kedua gagal lagi karena setelah orang tua mempelai wanita menyelesaikan kalimatnya, mempelai pria bernafas terlebih dahulu dan tidak langsung menyambut kalimat itu dengan kalimatnya. Ku tarik nafasku dalam dalam, dan berdoa semoga di kesempatan ketiga ini aku bisa melihat anggukan para saksi dan berucap sah. Alhamdulillah harapan itu Allah jadikan kenyataan, yang setelahnya aku memeluk erat tubuh wanita beragaun 10 kali lipat lebih indah dari gaunku dengan pelukan haru diiringi tetes air mata.

Mbak Arina Manasikana… Aku menyayangimu dan selalu mengaharapkan kebahagiaan atasmu, semoga pernikahan ini menjadi pernikahan yang abadi dunia akhirat yang tentunya di Berkahi Allah ^^ Aamiin.

Satu kalimat yang tak kusangka dari mana sebenarnya aku dapat kalimat ini, tiba tiba saja terlintas ketika dua orang sejoli yang bergendengan tangan berjalan pelan didepanku, sambil kupegangi gaunnya yang menyapu tanah, kubilang

“Kalian berduaan kaya gini, yang ketiga tak lagi setan. Tapi malaikat J”  #ngiler (maksudnya aku malaikat, kan yang ketiga diantara mereka aku :p)

4 thoughts on “1 Febuari 2013, Yang Ketiga Sekarang Adalah Malaikat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s