TereLiye : Menulis itu Seperti Memasak

tereliyeMasih pada rangkaian acara SGM 4 (Scientific Great Moment) yang digelar Universitas Brawijaya pada tanggal 24- 26 Mei 2013. Kali ini SGM mengundang tere liye penulis hebat yang sampai sekarang karyanya sangat digemari oleh banyak penggemar. Tere Liye mempunyai nama asli Darwis. Darwis lahir di Palembang. Begitulah orang melayu memang pandai merangkai kata. Kali ini Bang Tere berbagi ilmu tentang menulis, dan bagaimana tips nya agar menjadi penulis hebat seperti Bang Tere. Diluar dugaan, Bang Tere mengatakan menulis itu ibarat ibu saya memasak. Harus diakui masakan ibu saya sangat uenak sekali. Seketika saya kecil dulu saya pernah bertanya kepada ibu saya apa resepnya kok masakan ibu ini enak sekali. Ibu Bang Tere malah mengatakan Darwis ini aneh aneh saja, makan tinggla makan, ndak usah nanya nanya bagaimana memasaknya. Darwis beranjak dewasa, kemudian suatu ketika ia bertanya lagi tentang masakan ibunya yang sangat enak, kemudian ibunya menjawab, ya tinggal dimasak masak aja. Darwis merasa tidak puas dengan jawaban itu, maka suatu subuh Darwis mengintip ibunya yang sedang memasak di dapur. Ya memang benar ternyata, wotel diris iris, bawang, cabe, garam, mrica, kemiri apapun lah semua tinggal dimasukkanย  masukkan, masak sreng sreng sreng jadi enak. Nah, pun begitu dengan menulis. Ya tips nya tulis tulis aja๐Ÿ˜€ sama seperti memasak, mau menulis dengan bagus ya sebenarnya tinggal tulis tulis aja . Seluruh penonton di gedung Widyaloka sentak tertawa. Yang paling penting dari menulis sebenarnya hanya ada 2, Menulislah dari sudut pandang yang berbeda, yang spesial dan menulislah dengan mempersiapkan amunisi. Jika tidak punya amunisi, mau melototin laptopnya sampai kiamat pun juga tidak akan jadi itu tulisannya. Amunisi didapat dari banyak hal, setiap detik perjalanan hidup kita adalah riset yang mampu dijadikan amunisi. Misalnya saja ketika naik taksi, tak ada kan orang yang kemudian mengajak sopir taksinya bercengkerama. Padahal jika digali bisa jadi sopir taksi itu pernah mengantarkan seorang artis, kemudian ia bercerita panjang lebar tentang kehidupan dia menjadi sopir taksi dan lain sebagainya. 1 pengetahuan yang jarang orang tahu kemudian kita dapat. Contoh lain, misalnya ketika sedang mengantri di Alfamart, yang ada orang bermuka sebal karena mengantri panjang, yang ada orang malah update status gue lagi antri nih di alfamart, sebel deh kasirnya lama banged apa lagi training kali ya. Padahal jika saja kita mau mencairkan suasana dengan mungkin mengajak ngorbrol orang orang di sekitar kita, bercengkerama dengan mbak kasir kemudian bertanya, โ€œMbak chiki apa sih yang paling laris di toko ini?โ€ nah paling tidak kita tahu setelah pulang dari Alfamart oh ternyata chiki ini paling laris lho di toko itu. Hahahaha

Menulis itu perlu dilatih, sama seperti memasak. Bang Tere kembali bercerita tentang istrinya yang ketika awal menikah dulu sama sekali tidak bisa memasak. Kemudian ia mulai mencari resep masakan, dipraktekkan. Hari pertama dicoba, rasanya belum begitu nikmat. 1 bulan 2 bulan kemudian, lumayan tak lagi melirik resep masakan, dan 3 bulan resep masakan sudah berada di dalam loker dapur. Tak dibuka lagi, dan hasil masakannya sudah persis sama dengan masakan ibu Bang Tere. Nah, jadi kuncinya disini menulis itu butuh dilatih. Butuh niat ga? Oh itu ya jelas.

Dalam sebuah diskusi tanya jawab dengan peserta seminar, seseorang bertanya tentang apakah menulis yang baik itu mengikuti passion yang dulu ada atau passion yang sekarang ini menarik untuk saya tapi kok lama lama gak betah atau yang seperti apa ? Bang Tere dengan gaya santainya menjawab, โ€œjangan mengikuti pasaran pembaca dalam menulis. Tulis apa yang kamu suka. Apa yang kamu passionkan. Kalo begitu kasusnya bisa jadi passion kamu juga bukan menuls heheheโ€. โ€œTulislah apa yang harusnya orang baca bukan apa yang ingin orang baca. Menulis bukan bertujuan untuk sekedar dibaca orang rusak kalo gitu niatnya, nulis gak ada yang komentar gak ada yang ngelike frustasi sedih terus gak mau nulis lagi. Rusak kan? Pernah dulu ketika proses penulisan kau aku dan sepucuk angpau merah karya Bang Tere ngadat di tengah jalan. Sebelum diterbitkan, cerita itu beliau share di page beliau, dibagikan gratis kepada orang yang ingin membaca. Banyak yang komen wah ini gak masuk akal ceritanya, dan lain sebagainya. Lah ini kan page page saya suka suka dong saya mau nulis apa. Bang Tere males melanjutkan. Sampai suatu ketika ada seseorang mengirim email kepada Bang Tere, Seorang TKW di Korea. Memohon agar tulisan Bang Tere segera dilanjutkan, saya gak mau. Kemudian beberapa waktu lagi ia bercerita tentang pekerjaannya merawat nenek2 di Korea selama 15 tahun-an dan dari page cerita kau aku dan sepucuk angpau merah karya Bang Tere itu setiap hari diceritakan kepada nenek yang ia rawat itu. Kemudian ketika Bang Tere berhenti menulis, nenek nenek itu selalu mendesak TKI perempuan itu untu menceritakan bagaimana kelanjutan dari kisah itu. Awalnya Bang Tere berpikir, nah ngapain juga saya juga gak kenal sam aTK W itu, apalagi sama nenek- neneknya? Tapi pemikiran itu segera terhapus, bahwa dibalik tulisan yang kita buat ternyata menyimpan manfaat luar biasa bahkan untuk orang yang berbeda bahasa dan budaya dengan kita.

Dalam menulis jangan terlalu mikir gaya bahasa. Di dunia ini tidak ada tulisan baik, tidak ada tulisan jelek, yang ada hanya tulisan ini relevan dan tidak relevan. Sama seperti contoh dulu ketika Bang Tere mengakui tulisan Andrea Hirata yang luar biasa bagus itu beliau tawarkan ke teman. Teman Bang Tere baru baca 5 lembar saja bilang aduh saya gak ngerti ini maksudnya apa. Nah thatโ€™s the point. Buku itu relevan buat bang tere tapi tidak relevan buat temannya.

Sebenarnya masih banyak lagi yang disampaikan bang Tere dlaam diskusi kemarin, banyak pertanyaan- pertanyya menggelitik yang diajukan peserta kepada Bang Tere dan dijawab pulan dnegan menggelitik oleh Bang Tere. Unik. Santai. Rendah Hati. Apa Adanya. Untuk Bang Tere terimasih ilmunya ^^

5 thoughts on “TereLiye : Menulis itu Seperti Memasak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s